RSS

Category Archives: kULiAh BiDaN

Mitos Terhadap Masa Kehamilan

1. Mitos: Minum es membuat janin besar

Fakta: Air dengan atau tanpa es tidak memiliki tambahan gizi/energi, sehingga tidak mempengaruhi berat badan atau janin

 

2. Mitos: ibu hamil harus makan dua kali lipat

Fakta: Kehamilan merupakan keadaan dimana ada calon manusia yang tumbuh dan berkembang di dalam rahim. selama periode itu tentu kebutuhan nutrisi dibutuhkan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan janin dan ibunya. Namun bukan berarti ibu hamil harus melipatgandakan porsi makanan, yang perlu diperhatikan ialah asupan kandungan gizi.

 

3. Mitos: Tidak boleh makan nanas, pisang ambon, dan durian

Fakta: Mengonsumsi nanas, pisang ambon, dan durian tidak akan berdampak buruk jika dikonsumsi dalam jumlah secukupnya.

 

4. Mitos: Ibu hamil tidak boleh makan daging kambing

Fakta: Daging kambing banyak mengandung kadar purin (lemak) yang tinggi, memengaruhi metabolisme asam urat dan bahaya bagi penderita kolestrol atau jantung. Namun, apabila ibu hamil tidak memiliki riwayat penyakit tersebut dia boleh mengonsumsi daging kambing. Tentu dalam batas porsi yang seimbang.

 

5. Mitos: Membatasi makanan tertentu.

Fakta: Pada kehamilan dengan gangguan penyakit tertentu, sebaiknya membatasi makanan. Misal, bagi ibu yang mengalami sakit ginjal dan tekanan darah tinggi sebaiknya dia membatasi bahan makanan yang banyak mengandung garam. Adapun ibu hamil yang mengalami penyakit diabetes mellitus sebaiknya juga membatasi makanan yang banyak mengandung gula, kalori, dan lemak.

 

6. Mitos: Jangan kerja atau olahraga berat

Fakta: Bagi beberapa ibu hamil, aktivitas fisik yang berat dapat membahayakan kehamilan, terutama ibu hamil yang pernah mengalami keguguran atau ibu yang memiliki riwayat keguguran berulang kali.

 

7. Mitos: Tidak boleh mengurut perut

Fakta:  Masih banyak masyarakat yang terbiasa untuk melakukan urut perut selama kehamilan. Sebenarnya, urut perut keras dapat menimbulkan risiko kepada janin, seperti stress atau komplikasi kelekatan plasenta menjadi rapuh, mudah lepas, dan perdarahan.

 

8. Mitos: Tidak boleh senggama

Fakta: Ibu hamil boleh tetap melakukan aktivitas seksual. Namun jika sebelumnya pernah mengalami keguguran, aktivitas ini harus dilakukan hati-hati, terlebih ibu yang memiliki riwayat keguguran berulang (abortus habitualis). Jika aktivitas seksual tidak hati-hati dapat menyebabkan risiko keguguran.

 

9. Mitos: Hati-hati minum jamu

Fakta: Tidak semua jamu aman diminum ibu hamil, karena bahan-bahan dalam jamu sekalipun terbuat dari alam tentu ada jenis tanaman tertentu yang mengandung alkohol. Jamu atau obat-obatan sebaiknya jangan dikonsumsi ibu tanpa rekomendasi bidan/dokter.

 

10. Mitos: Minum air kelapa mempercepat kelahiran

Fakta: Belum ada penelitian yang membuktikan pendapat ini. Namun, kelancaran dalam proses persalinan dipengaruhi beberapa faktor, seperti melakukan pemeriksaan rutin kesehatan selama kehamilan.

 

11. Mitos: Ibu hamil tidak boleh melakukan perjalanan jauh

Fakta: Mitos ini berkembang karena kekhawatiran terjadinya gangguan kehamilan atau kelahiran diluar perkiraan. Apalagi, bila tempat dituju jauh dari sarana kesehatan. Sebaiknya ibu hamil yang pernah mengalami keguguran atau hamil pada tahap trimester akhir jangan melakukan perjalanan jauh. Kalaupun terpaksa, sebaiknya ditemani suami atau kerabat dan membawa riwayat kesehatannya.

 

SUMBER:

Pieter, Herri Zan, et al. 2010. Pengantar Psikologi untuk Bidan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2011 in kULiAh BiDaN

 

-OBSTETRI-

Obstetri merupakan cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan persalinan, hal-hal yang mendahuluinya dan gejala-gejala sisanya (Oxford English Dictionary, 1933).Obstetri terutama membahas tentang fenomena dan penatalaksanaan kehamilan, persalinan puerperium baik pada keadaan normal maupun abnormal. Nama lain obstetri adalah midwifery.

 

Tujuan obstetri yaitu agar supaya setiap kehamilan yang diharapkan dan berpuncak pada ibu dan bayi yang sehat. Juga berusaha keras mengecilkan jumlah kematian wanita dan bayi sebagai akibat proses reproduksi atau jumlah kecacatan fisik, intelektual dan emosional yang diakibatkannya.

 

Statistik Vital Obstetri Statistik vital obstetri meliputi:

1. Kelahiran

2. Angka kelahiran

3. Angka fertilitas

4. Kelahiran hidup

5. Lahir mati (still birth)

6. Kematian neonatal

7. Angka lahir mati

8. Angka kematian janin (sama dengan angka lahir mati)

9. Angka kematian neonatal

10. Angka kematian perinatal

11. Berat badan lahir rendah

12. Bayi cukup bulan (term infant)

13. Bayi kurang bulan (prematur)

14. Bayi lewat bulan (post term)

15. Abortus

16. Kematian ibu langsung (direct maternal death)

17. Kematian ibu tak langsung (indirect maternal death)

18. Kematian non maternal

19. Angka kematian ibu atau mortalitas ibu (maternal death rate atau maternal mortality).

 

Kelahiran

Kelahiran adalah ekspulsi atau ekstraksi lengkap seorang janin dari ibu tanpa memperhatikan apakah tali pusatnya telah terpotong atau plasentanya masih berhubungan. Berat badan lahir adalah sama atau lebih 500 gram, panjang badan lahir adalah sama atau lebih 25 cm, dan usia kehamilan sama atau lebih 20 minggu.

 

Angka Kelahiran

Angka kelahiran adalah jumlah kelahiran per 1000 penduduk.

 

Angka Fertilitas

Angka fertilitas adalah jumlah kelahiran hidup per 1000 populasi wanita usia 15-44 tahun.

 

Kelahiran Hidup

Tanda utama kelahiran hidup adalah neonatus dapat bernapas. Tanda-tanda kehidupan lainnya meliputi denyut jantung dan gerakan spontan yang jelas dari otot volunter.

 

Lahir Mati (Still Birth)
Lahir mati ditandai oleh tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan pada saat atau setelah kelahiran.

 

Kematian Neonatal

Kematian neonatal terdiri atas kematian neonatal dini dan kematian neonatal lanjut. Kematian neonatal dini adalah kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup dalam 7 hari setelah kelahiran. Kematian neonatal lanjut adalah kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup lebih 7 hari sampai kurang 29 hari.

 

Angka Lahir Mati

Angka lahir mati adalah jumlah bayi yang dilahirkan mati per 1000 bayi yang lahir.

 

Angka Kematian Neonatal

Angka kematian neonatal adalah jumlah kematian neonatal per 1000 kelahiran hidup.

 

Angka Kematian Perinatal

Angka kematian perinatal adalah jumlah bayi lahir mati ditambah kematian neonatal per 1000 kelahiran total.

 

Berat Badan Lahir Rendah

Berat badan lahir rendah adalah berat badan lahir kurang 2500 gram.

 

Bayi Cukup Bulan

Bayi cukup bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan 37-42 minggu atau 260-294 hari.

 

Bayi Kurang Bulan (Prematur)

Bayi kurang bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan kurang 37 minggu.

 

Bayi Lewat Bulan

Bayi lewat bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan lebih 42 minggu.

 

Abortus

Abortus adalah pengambilan atau pengeluaran janin atau embrio dari uterus selama paruh pertama masa kehamilan (20 minggu atau kurang) atau berat badan lahir kurang 500 gram atau panjang badan lahir 25 cm atau kurang.

 

Kematian Ibu Langsung

Kematian ibu langsung disebabkan komplikasi obstetri dari kehamilan, persalinan atau puerperium dan akibat intervensi, kelahiran, dan terapi tidak tepat.

 

Kematian Ibu Tak Langsung

Kematian ibu tak langsung disebabkan oleh penyakit yang timbul selama kehamilan, persalinan atau puerperium dan diperberat oleh adaptasi fisiologis ibu terhadap kehamilan. Misalnya kematian ibu karena komplikasi stenosis mitral.

 

Kematian Non Maternal

Kematian non maternal disebabkan oleh kecelakaan atau faktor kebetulan yang sama sekali tidak berhubungan dengan kehamilan.

 

Angka Kematian Ibu

Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per 100.000 kelahiran hidup.

Sebab-sebab umum kematian ibu yaitu :

1. Perdarahan

2. Hipertensi

3. Infeksi

 

Perdarahan

Perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas perdarahan post partum, perdarahan berkaitan abortus, perdarahan akibat kehamilan ektopik, perdarahan akibat lokasi plasenta abnormal atau ablasio plasenta (plasenta previa dan absupsio plasenta), dan perdarahan karena ruptur uteri.

 

Hipertensi

Hipertensi yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas hipertensi yang diinduksi kehamilan dan hipertensi yang diperberat kehamilan. Hipertensi umumnya disertai edema dan proteinuria (pre eklamsia). Pada kasus berat disertai oleh kejang-kejang dan koma (eklamsia).

 

Infeksi

Infeksi nifas atau infeksi panggul post partum biasanya dimulai oleh infeksi uterus atau parametrium tetapi kadang-kadang meluas dan menyebabkan peritonitis, tromboflebitis dan bakteriemia.

 

Alasan menurunnya angka kematian ibu :

- Transfusi darah

- Anti mikroba

- Pemeliharaan cairan elektrolit, keseimbangan asam-basa pada komplikasi- komplikasi serius kehamilan dan persalinan.

 

Kematian reproduktif adalah kematian akibat kehamilan dan penggunaan teknik-teknik untuk mencegah kehamilan (teknik kontrasepsi).

 

Kematian Perinatal Kematian neonatus yang terbanyak adalah :

1. Berat badan lahir rendah

2. Cedera susunan saraf pusat akibat hipoksia in utero dan cedera traumatik selama persalinan dan kelahiran

3. Malformasi kongenital

 

 

 

Sumber :

Cunningham, Mac Donald, Gant. Obstetri Williams, ed. ke-18. dr. Joko Suyono & dr. Andry Hartono (penerj.). Jakarta : EGC.

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2011 in kULiAh BiDaN

 

STERILISASI DAN DESINFEKSI

STERILISASI

Sterilisasi adalah proses (kimia atau fisik) yang dapat membunuh semua jenis mikroorganisme.

Sterilisasi dilakukan dalam 4 tahap :

  • Pembersihan sebelum sterilisasi
  • Pembungkusan
  • Proses sterilisasi
  • Penyimpanan yang aseptik.

Jenis-Jenis Sterilisasi :

  • Sterilisasi Panas/Fisik
  • Sterilisasi Filtrasi
  • Sterilisasi Radiasi
  • Sterilisasi Kimia
  • Sterilisasi dengan cara Panas
  • Panas Kering
  • Pembakaran (inceneration)

DESINFEKSI

Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.

Desinfektan akan membantu mencegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan maupun dari staf medis yang ada di RS dan juga membantu mencegah tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien. Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati.

Kriteria desinfeksi yang ideal:

Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar

Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban

Tidak toksik pada hewan dan manusia

Tidak bersifat korosif

Tidak berwarna dan meninggalkan noda

Tidak berbau/ baunya disenangi

Bersifat biodegradable/ mudah diurai

Larutan stabil

Mudah digunakan dan ekonomis

Aktivitas berspektrum luas

Tujuan dari sterilisasi dan desinfeksi adalah:

  • Mencegah terjadinya infeksi
  • Mencegah makanan menjadi rusak
  • Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri
  • Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan biakan murni.
 
4 Comments

Posted by on February 26, 2011 in kULiAh BiDaN, Uncategorized

 

INFEKSI PERINATAL

Pengertian :

Infeksi pada neonatus yang terjadi pada prenatal, antenatal, intranatal dan post natal.

 

Penyebab :

E. Coli, Pseudomonas Pyocyaneus, Klebsiela, Stapylococcus Aureus Coecus (Gonoccus).

  1. Infeksi Antenatal

Kuman masuk ke tubuh janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta.

  1. Virus :  Rubella Poliomielitis, Variola, Vacuma Cocsakie, Cytomegalic Inclusion
  2. Spirochata :Treponema pallidum (Lues)
  3. Bakteri E. Coli  dan Listeria Monocytoganes
  4. Infeksi Intranatal

Terjadi dengan cara mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Lebih dari 12 jam akan menyebabkan plasentitis dan amnionitis juga dapat terjadi pada ketuban belum pecah ; partus lama yang sering dilakukan manipulasi vagina, misal blennorhoe.

  1. Infeksi Pascanatal

Terjadi setelah bayi lahir melalui kontamiasi dengan alat-alat tidak steril, tindakan yang tidak antiseptik, atau infeksi silang, misal TN, Omfalitis dll.

 

Gejala :

Bayi malas minum, gelisah makan juga terjadi latergi, frekuensi pernafasan meningkat, BB menurun, muntah pergerakan kurang, diare, skerema, oedema, perdarahan, ikterus, kejang, suhu tubuh dapat normal, hipotermi dan hipertermi.

Penatalaksanaan :

  • Mengatur posisi tidur semi fowler
  • Bila suhu meningkat lakukan kompres dingin
  • Beri ASI sedikit demi sedikit
  • Bila Bayi muntah, posisikan bayi tidur miring.
  • Bila diare perhatikan personal hygiene dan keadaan lingkungan
  • Rujuk ke RS.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2011 in kULiAh BiDaN

 

MANAJEMEN KEBIDANAN VARNEY PADA KEHAMILAN

I. PENGUMPULAN DATA (PENGKAJIAN)

  • SUBJEKTIF
    • BIODATA:
  1. ISTRI
  2. Nama

Perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien (Christian .I. 1984 : 84)

  1. Umur

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dalam kurun waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. (Sarwono, 1999:23)

  1. Alamat

Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan diketahuinya alamat tersebut, bidan dapat mengetahui tempat tinggal pasien/klien dan lingkungannya. Dengan tujuan untuk memudahkan menghubungi keluarganya, menjaga kemungkinan bila ada nama ibu yang sama, untuk dijadikan petunjuk saat kunjungan rumah. (Christina .I. 1984 : 84).

  1. Pekerjaan

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dengan mengetahui pekerjaan pasien/klien, bidan dapat mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai, juga mengetahui apakah pekerjaan mengganggu atau tidak, misalnya bekerja di pabrik rokok, mungkin yang dihisap akan berpengaruh pada janin. (Cristina I, 1989:85)

  1. Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

  1. Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.

  1. Status Perkawinan

Pertanyaan ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan. Bila diperlukan ditanyakan tentang perkawinan keberapa kalinya.

  1. Suku/Ras

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya suku/ras pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

 

  1. SUAMI
    1. Nama

Perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien (Christian .I. 1984 : 84)

  1. Umur

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien.

  1. Alamat

Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan tujuan untuk memudahkan menghubungi suami pasien/klien.

  1. Pekerjaan

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan suami terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dengan mengetahui pekerjaan suami pasien/klien, bidan dapat mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai, juga mengetahui apakah pekerjaan mengganggu atau tidak, misalnya bekerja di pabrik rokok, mungkin yang dihisap akan berpengaruh pada janin. (Cristina I, 1989:85)

 

  1. Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

  1. Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan suami juga mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seorang istri.

  1. Status Perkawinan

Pertanyaan ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan. Bila diperlukan ditanyakan tentang perkawinan keberapa kalinya.

  1. Suku/Ras

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya suku/ras pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

 

  • RIWAYAT PASIEN
  1. KELUHAN UTAMA

Ditanyakan untuk mengetahui perihal yang mendorong pasien/klien datang kepada bidan. Untuk mengetahui keluhan utama tersebut pertanyaan yang diajukan oleh bidan adalah sebagai berikut: “Apa yang ibu rasakan, sehingga ibu datang kemari?”

Setelah pasien menjawab pertanyaan yang diajukan diatas maka pertanyaan selanjutnya adalah sebagai berikut :

  • Sejak kapan timbulnya gangguan dirasakan?
  • Ceritakan secara kronologis timbulnya gangguan tersebut?
  • Apakah gangguan tersebut hilang timbul? Bagaimana frekuensinya?
  • Dimana letak rasa sakit yang dirasakan? Bagaimana intensitas dan tingkat perawatannya?
  • Apakah ada keluhan lain?
  • Apakah gangguan tersebutmenghalangi kegiatan sehari-hari?
  • Apa yang telah dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan tersebut? Apakah efektif?

 

  1. RIWAYAT MENSTRUASI

Untuk mengetahui gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksi pasien/klien.

  1. Menarche

Untuk mengethui usia pertama kalinya mengalami menstruasi.

  1. Siklus Menstruasi

Untuk mengetahui jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.

  1. Volume

Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya digunakan criteria banyak, sedang, sedikit. Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat subjektif, namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dengan beberapa pertanyaan pendukung, misalnya sampai berapa kali mengganti pembalut dalam sehari.

  1. Keluhan

Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami menstruasi, misalnya nyeri hebat, sakit kepala sampai pingsan, atau jumlah darah yang banyak. Keluhan yang disampaikan oleh pasien dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu.

  1. Menstruasi yang Terakhir

Untuk mengetahui prediksi waktu mengenai kapan menstruasi yang akan datang

  1. Dismenorhea

Untuk mengetahui ketika haid terjadi nyeri atau sulit. Dismenorhea ditandai oleh nyeri mirip kram yang terasa pada abdomen bagian bawah dan kadang-kadang oleh sakit kepala, keadaan mudah tersinggung, depresi mental, keadaan tidak enak badan serta perasaan lelah.

 

 

 

  1. Keteraturan Menstruasi

Untuk mengetahui jarak normal keteraturan menstruasi biasanya 23 sampai 32 hari. Apabila terjadi ketidak teraturan menstruasi pada pasien dapat segera dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui factor-faktor penyebabnya.

  1. Fluor albus

Untuk mengetahui pada umumnya adanya cairan di dalam vagina bertambah dalam kehamilan tanpa sebab-sebab yang patologis dan sering menimbulkan keluhan. Ganococcus menyebabkan flour seperti nanah, Trichomonasvaginalis menyebabkan flour yang putih berbau, sedangkan candida albicans menyebabkan flour dengan gumpalan putih atau kuning dan menyebabkan gatal yang sangat.

  1. Gangguan sewaktu Menstruasi

Untuk mengetahui gangguan apa saja yang dirasakan ketika mengalami menstruasi,misalnya nyeri hebat,sakit kepala sampai pingsan, atau keadaan mudak tersinggung (emosional meningkat). Gangguan yang dialami pasien dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu.

  1. RIWAYAT PERKAWINAN

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh riwayat perkawinan terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Berapa kali kawin dan berapa lamanya untuk membantu menentukan bagaimana keadaan alat kelamin ibu. Kalau orang hamil sudah lama kawin, nilai anak tentu besar sekali dan ini harus diperhitungkan dalam pimpinan persalinan (anak mahal). (Sulaiman, 1983:155). Hal-hal yang perlu ditanyakan kepada pasien/klien mengenai riwayat perkawinannya adalah :

  1. Kawin : …………………..kali
  2. Usia Kawin Pertama ………………………tahun
  3. Status Perkawinan
  4. Lama Pernikahan
  5. RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN

Untuk mengetahui adanya masalah-masalah persalinan kehamilan dan nifas yang lalu. Pertanyaan ini mempengaruhi prognosa persalinan dan persiapan persalinan yang lampau adalah hasil ujian-ujian dari segala faktor yang mempengaruhi persalinan. Mencakup :

 

  1. Jumlah Kehamilan dan kelahiran: G (gravida), P (para), A (abortus), H (hidup)

Data ini digunakan untuk mengetahui riwayat kehamilan dan kelahiran pasien.

  1. Golongan Darah

Data ini menjelaskan golongan darah pasien, hal ini dilakukan untuk sumber informasi jika ketika kehamilan atau persalinan mengalami pendarahan penanganan penggantian darah yang keluar melalui transfusi darah lebih cepat dilakukan.

  1. Riwayat persalinan

Mencakup jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya melahirkan, cara melahirkan. Dengan mengetahui riwayat persalinan, melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil saat persalinan sekarang dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya.  Jika persalinan dahulu terdapat penyulit seperti perdarahan, sectio saesaria, solusio plasenta, plasenta previa kemungkinan dapat terjadi atau timbul pada persalinan sekarang.

  1. Masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan

Untuk mengetahui masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan, jika terdapat penyulit diupayakan pencegahannya dan penanggulangannya.

  1. RIWAYAT NIFAS

Untuk mengetahui adakah penyakit atau kelainan pada masa nifas yang lalu (perdarahan, feloris).

  1. RIWAYAT KELAHIRAN ANAK
    1. Berat bayi sewaktu Lahir

Untuk mengetahui kondisi bayi apakah sehat atau mengalami trauma lahir dimana hal ini terjadi karena trauma pada bayi akibat tekanan mekanik (seperti kompresi dan traksi) selama preses persalianan. Kejadian ini terjadi pada berat badan bayi lebih dari 4.500 gram.

  1. Kelainan Bawaan Bayi

Untuk dapat segera melakukan tindakan preventif pada bayi agar tidak memperparah kondisi.

  1. Jenis Kelamin Bayi

Untuk mengetahui jenis kelamin bayi sebagai dokumentasi.

  1. Status Bayi yang Dilahirkan: hidup atau mati

Bila bayi hidup, bagaimana keadaannya sekarang,

Bila meninggal, apa penyebab kematiannya

 

  1. RIWAYAT GINEKOLOGI

Data ini sangat penting karena akan memberikan petunjuk tentang organ reproduksi pasien. Mencakup: infertilitas, penyakit kelamin, tumor atau kanker sistem reproduksi, operasi ginekologi. Jika didapatkan adanya salah satu atau beberapa riwayat gangguan kesehatan alat reproduksi, maka harus waspada akan adanya kemungkinan gangguan kesehatan alat reproduksi pada masa postpartum.

  1. RIWAYAT KELUARGA BERENCANA

Untuk mengetahui apakah ada efek samping setelah penggunaan kontrasepsi, lamanya menggunakan alat kontrasepsi,  alasan pemakaian serta pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi), serta keluhan selama memakai alat kontrasepsi. (Depdikbud, 1999).

  1. RIWAYAT KEHAMILAN SEKARANG

Mencakup waktu mendapat haid terakhir, siklus haid, perdarahan pervaginam, fluor, mual/muntah, masalah kelainan pada kehamilan sekarang, pemakaian obat-obatan/jamu. Anamnesa haid serta siklusnya dapat diperhitungkan tanggal persalinan serta memantau perkembangan kehamilannya serta dengan anamnesa ini dapat diketahui dengan segera adanya kelainan / masalah dalam kehamilan dan dapat ditangani dengan segera.

10.  RIWAYAT PENYAKIT

Untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita pasien/klien. Informasi ini penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya. (Depkes RI, 1993:65), misal:

  • Ibu hamil dengan riwayat penyakit hipertensi perlu ditentukan pimpinan persalinan dan kemungkinan bisa menyebabkan transient hipertension.
  • Ibu hamil dengan riwayat penyakit TBC akut kemungkinan bisa menyebabkan kuman saat persalinan dan bisa menular pada bayi.
  • Ibu dengan riwayat DM mempunyai pengaruh terhadap persalinannya dan bayi bisa cacat bawaan, janin besar.
  • Ibu menderita hepatitis kemungkinan besar bayi akan tertular melalui ASI. (Sarwono, 1999:401)

11.  GAMBARAN PENYAKIT YANG LALU

Setelah mengetahui riwayat penyakit pasien/klien, bidan perlu mengetahui gambaran mengenai riwayat penyakit pasien/klien, misal apakah penyakit tersebut parah/tidak, apakah sudah dilakukan tindakan pada penyakit tersebut, dll. Informasi ini penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil dan mengupayakan pencegahan dan penanggulangannya.

12.  RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan ibu dan janinnya. Penyakit keluarga yang perlu ditanyakan mencakup penyakit kanker, jantung, hipertensi, diabetes, ginjal, jiwa, kelainan dibawa lahir, kehamilan kembar atau lebih, TBC, epilepsy, penyakit darah, alergi, penyakit yang menyebabkan kematian bagi bapak atau ibu yang telah meninggal.

13.  KEADAAN SOSIAL BUDAYA

Untuk mengetahui keadaan psikososial pasien atau klien perlu ditanyakan antara lain :

-   Jumlah anggota keluarga

-   Dukungan materiil dan moril yang didapat dari keluarga.

-   Kebiasaan-kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.

-   Kebiasaan yang merugikan kesehatan.

 

 

  • OBJEKTIF

Untuk mengetahui keadaan setiap bagian tubuh dan pengaruhnya terhadap kehamilan untuk diupayakan pencegahan dan penanggulangannya.

  1. Pemeriksaan Pandangan Keadaan Umum
    1. Postur tubuh

Untuk mengetahui perubahan pada tubuh seperti gemuk atau kurus, tinggi atau pendek, perut tampak lebih besar atau tidak daan sebagainya.

 

 

  1. Gerakan tubuh

Untuk mengetahui cara berjalan, berdiri, duduk, berbicara, posisi anggota badan, lemah, menggigil, sesak, dan sebagainya.

  1. Ekspresi wajah

Untuk mengetahui ekspresi gembira, sedih, kesakitan, ketakutan, pucat, ketuaan, dan sebagainya pada ibu hamil

  1. Berat dan Tinggi Badan

Tujuan pengukuran berat dan tinggi badan adalah untuk memeastikan kesan umum terhadap tubuh pasien/klien, terutama mengenai derajat kegemukannya. Pasien/klien yang gemuk atau kurus memberikan kemungkinan lebih mudah mengidap penyakit. Barat badan dicatat dalam ukuran kilogram, dan tinggi badan dalam ukuran sentimeter (cm).

  1. Pengukuran Temperatur, Tekanan Darah, dan Denyut Nadi

Pengukuran temperature, tekanan darah dan denyut nadi dilakukan sebab perbedaan suhu, tekanan (tensi) darah dan denyut nadi dari normal akan menunjukkan adanya gangguan kesehatan dalam tubuh pasien.

  1. Pemeriksaan Kulit
    1. Observasi : warna dan parut bekas luka.
    2. Palpasi : kelembaban dan turgor
    3. Kepala dan leher

Di dalam pemeriksaan kepala dan leher dapat dilakukan melalui:

  1. Rambut

Untuk mengetahui keadaan rambut seperti hitam, lebat, tidak bau, tidak berketombe

  1. Tempurung Kepala

Untuk observasi bentuk, benjolan, infeksi pada kepala. Palpasi bila tampak benjolan untuk mengetahui besar, bentuk, kekenyalan dan mobilitasnya.

  1. Mata

Untuk mengetahui apakah terjadi anemia atau tidak pada conjungtiva

  1. Telinga

Untuk mengetahui ada atau tidak serumen di telinga

  1. Hidung

Untuk mengetahui ada atau tidak polip atau secret

 

  1. Muka

Untuk mengetahui ada atau tidak chloasma gravida dan ada icterus atau tidak pada sklera

  1. Mulut

Untuk mengetahui apakah adanya pembesaran tonsil atau karies gigi

  1. Gigi

Untuk mengetahui keadaan konstruksi gigi apakah terjadi kekeroposan atau tidak dimana hal inimenjdi indikasi adanya kekurangan kalsium atau tidak

  1. Leher

Untuk mengetahui ada atau tidak pembesaran kelenjar getah bening, ada atau tidaknya struma/kelenjar gondok, dan ada atau tidak pembesaran vena jogularis

  1. Dada dan Aksilla
    1. Dinding Thoraks

Observasi bentuk thoraks. Misal, apakah kiphosis atau tidak.

  1. Payudara

Observasi dilakukan untuk mengetahui ukuran, bentuk, dan warna kulit dan putting susu. Palpasi dilakukan untuk mengatahui ada tidaknya benjolan, rasa sakit (oleh karena adanya infeksi)

  1. Aksilla

Observasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya benjola. Palpasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya rasa sakit dan tumor.

  1. Abdomen
    1. Observasi dinding abdomen

Untuk mengamati gerak uterus (his), gerak janin, dan tanda-tanda kehamilan.

  1. Palpasi

Untuk mengetahui tinggi fundus uteri yang erat kaitannya dengan umur kehamilan. Pemerikasaan Leopold dengan mempalpasi abdomen dapat menentukan letak janin di dalam uterus, cekungan perut, nyeri tekan, tes Osborn, ukuran panggul luar, his.

  1. Auskultasi

Dilakukan untuk mengetahui bunyi jantung anak (punctum maximum, lama, + kekuatan, relaksasi)

 

  1. Ekstremitas
    1. Atas : gangguan atau kelainan, bentuk

Observasi keadaan tangan terutama telapak tangan dan kuku, misal untuk mengetahui apakah tampak pucat atau sianosis.

  1. Bawah : bentuk, udema, varises

Observasi dilakukan untuk mangetahui ada tidaknya kelainan seperti varises dan udema. Palpasi dilakukan untuk menentukan derajat varises atau udema.

  1. Pemeriksaan Tulang Punggung
    1. Observasi

Untuk mengetahui bentuk tulang punggung, misal apakah lordosis atau tidak.

10.  Genitourinaria

  1. Kebersihan
  2. Genetalia eksterna : observasi labia mayora, minora, fluor albus (warna dan baunya)
  3. Genetalia interna : observasi vagina, portio dan orifisium eksterna

11.  Pemeriksaan Anus

Untuk mengetahui apakah ditemukan kelainan atau tidak pada anus.

12.  Pemeriksaan Dalam

Pemeriksaan dengan jari telunjuk dan jari tengah untuk menentukan kondisi portio, pembukaan orifisium uteri, keadaan ketuban, letak anak di dalam panggul, dan luas panggul bagian dalam.

 

  • PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. Urine

Untuk mengetahui adanya kandungan albumin atau reduksi pada urine

  1. Kadar Hb

Untuk mengetahui apakah pasien mengalami anemia atau tidak pada masa kehamilan

  1. Hematokrit (Ht)

Data ini digunakan sebagai penunjang diagnosis anemia.

  1. Kadar Leukosit

Untuk mengetahui adanya infeksi atau tidak pada kehamilan

  1. Golongan Darah

Jika terjadi pendarahan pada pasien pada masa kehamilan atau setelah melahirkan menanganan segera dapat dilakukan.

  • REKAM MEDIS KLIEN

Rekam medis klien digunakan untuk:

  1. Pengobatan Pasien

Rekam medis bermanfaat sebagai dasar dan petunjuk untuk merencanakan dan menganalisis penyakit serta merencanakan pengobatan, perawatan dan tindakan medis yang harus diberikan kepada pasien.

  1. Peningkatan Kualitas Pelayanan

Membuat rekam medis dengan jelas dan lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melindungi bidan dan untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.

  1. Pendidikan dan Penelitian

Rekam medis yang merupakan informasi perkembangan kronologis penyakit, pelayanan medis, pengobatan dan tindakan medis, bermanfaat untuk bahan informasi bagi perkembangan pengajaran dan penelitian di bidang kebidanan.

  1. Pembiayaan

Berkas rekam medis dapat dijadikan petunjuk dan bahan untuk menetapkan pembiayaan dalam pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan. Catatan tersebut dapat dipakai sebagai bukti pembiayaan kepada pasien.

  1. Statistik Kesehatan

Rekam medis dapat digunakan sebagai bahan statistik kesehatan, khususnya untuk mempelajari perkembangan kesehatan masyarakat dan untuk menentukan jumlah penderita pada penyakit-penyakit tertentu.

  1. Pembuktian Masalah Hukum, Disiplin dan Etik

Rekam medis merupakan alat bukti tertulis utama, sehingga bermanfaat dalam  penyelesaian masalah hukum, disiplin dan etik.

 

II. MERUMUSKAN MASALAH (DIAGNOSA)

Pada langkah ini, bidan menganalisa data dasar yang diperoleh pada langkah pertama, menginterpretasikannya secara akurat dan logis, sehingga dapat merumuskan diagnose atau masalah kebidanan.

 

Di dalam diagnosa unsur – unsur berikut perlu dicantumkan yaitu:

  • Keadaan Pasien (ibu)

Keadaan pasien dicantumkan untuk membantu merumuskan masalah (diagnosa)

  • Keadaan Janin

Keadaan janin dicantumkan untuk membantu merumuskan masalah (diagnosa)

  • Masalah Utama dan Penyebabnya

Masalah dirumuskan bila bidan menemukan kesenjangan yang terjadi pada respon ibu terhadap kehamilannya. Tujuan mengetahui masalah utama dan penyebab adalah melakukan pengkajian lebih lanjut untuk diberikan intervensi khusus, baik berupa dukungan/penjelasan/tindakan/follow up/rujukan.

CONTOH:

  • Keadaan Pasien dan Janin

Ibu G1P0A0 hamil 36 minggu 4 hari, janin tunggal, hidup, intrauterin, bagian terendah kepala, dengan anemia ringan.

Dasar :

  1. Ibu mengatakan pegal-pegal pada pinggang dan kaki, sering lelah, pusing, mata berkunang-kunang,
  2. Hb                               : 9,4 g%
  3. Ibu mengatakan hamil anak pertama
  4. HPHT              : 5 Oktober 2006
  5. Leopold I        : TFU 34cm                 TBJ      : 3410g
  6. Leopold II                   : Puki (letak punggung janin kiri)
  7. Leopold III                 : Kepala
  8. Leopold IV                 : Kepala sudah masuk PAP, posisi sejajar
  9. DJJ                              : 140x/menit

 

  • Masalah Utama dan Penyebabnya
  1. 1. Gangguan aktifitas

Dasar :

1)      Ibu merasakan kram pada kaki

2)      Ibu mengatakan cepat lelah

  1. 2. Gangguan rasa nyaman

Dasar :

1)      Ibu merasa cemas menjelang persalinan

2)      Ibu mengatakan cepat lelah

3)      Ibu mengatakan kurang istirahat

  1. 3. Gangguan pemenuhan nutrisi

Dasar:

1)      Ibu terlihat pucat

2)      Ibu mengatakan tidak nafsu makan

3)      Ibu tampak lemas

 

  1. III. MENGANTISIPASI MASALAH (IDENTIFIKASI)

Langkah ini merupakan langkah antisipasi, sehingga dalam melakukan asuhan kebidanan, bidan dituntut untuk mengantisipasi permasalahan yang akan timbul dari kondisi yang sudah ada/sudah terjadi.

  • Masalah Potensial

Dengan mengidentifikasi masalah potensial/diagnose potensial yang akan terjadi berdasarkan diagnose/masalah yang sudah ada, bidan harus dapat merumuskan tindakan yang perlu diberikan untuk mencegah atau menghindari masalah/dignosa potensial yang akan terjadi.

 

  • Mengantisipasi penanganan

Pada langkah antisipasif ini diharapkan bidan selalu waspada dan bersiap-siap bila diagnose/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman dan dilakukan secara cepat, karena sering terjadi dalam kondisi emergensi.

  • Prognosa

Data ini digunakan untuk mengetahui perkembangan pasien apakah membaik atau memburuk, sehingga dapat segera dilakukan tindakan.

CONTOH:

Berdasarkan contoh diagnosa diatas

  • Masalah Potensial

Potensial terjadi persalinan lama, terjadi infeksi, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD), terjadi sub involusi uteri yang menimbulkan perdarahan antepartum, pengeluaran ASI kurang.

  • Mengantisipasi penanganan

Jika diperlukan lakukan kolaborasi dengan dokter

  • Prognosa

Prognosa ke arah baik

  1. IV. MENETAPKAN KEBUTUHAN (TINDAKAN SEGERA)

Pada tahap ini bidan mengidentifiksi perlunya tindakan segera, baik tindakan intervensi, tindakan konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan kondisi klien.

Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan dalam kondisi emergensi, berdasarkan hasil analisa data bahwa klien membutuhkan tindakan segera untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.

Pada langkah ini mungin saja diperlukan data baru yang lebih spesifik sehingga bidan mengetahui penyebab langsung masalah yang ada. Untuk itu diperlukan tindakan segera yang bersifat observasi atau pengkajian kembali.

CONTOH:

Berdasarkan contoh diagnosa diatas

  1. Penyuluhan tentang perubahan fisiologis dalam kehamilan seperti gangguan pada pinggang dan kaki.
  2. Penyuluhan tentang senam hamil dan latihan relaksasi.
  3. Penyuluhan tentang kebutuhan gizi ibu hamil
  4. Penyuluhan tentang persiapan persalinan.
  5. Pemberian Fe untuk pengobatan anemia ringan serta pemberian vitamin B kompleks dan vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi

V. MENYUSUN RENCANA TINDAKAN

  • Rencana Kegiatan

Tujuan di dalam rencana kegiatan ini adalah untuk menunjukkan perbaikan-perbaikan yang diharapkan.

  • Langkah-langkah Tindakan

Langkah-langkah tindakan yang dilakukan berdasarkan ,asalah yang dihadapi oleh pasien. Langkah-langkah tindakan merupakan upaya intervensi untuk mengatasi masalah.

  • Rencana Evaluasi

Rencana evaluasi dibuat untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan dilakukan. Di  dalam rencana evaluasi ditentukan sasaran yang akan dicapai.

CONTOH:

Berdasarkan contoh diagnosa diatas

  • Rencana dan Langkah-Langkah tindakan
  1. Jelaskan pada ibu kondisinya saat ini
  2. Ajarkan pada ibu cara menjaga kondisinya selama hamil

 

  1. Berikan terapi

1)      Tablet Fe                  : 2 x 1 tablet/ hari

2)      Kalsium laktat          : 3 x 1 tablet/hari

3)      Vitamin B kompleks: 3 x 1 tablet/hari

4)      Vitamin C                : 3 x 1 hari

  1. Anjurkan pada ibu cara mengkonsumsi zat besi
  2. Evaluasi cara ibu mengkonsumsi zat besi
  3. Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan psikologis pada ibu
  4. Jelaskan pada ibu pentingnya breast care dan senam hamil

1)        Ajarkan bagaimana cara breast care dan senam hamil

2)        Evaluasi cara ibu melakukan breast care dan senam hamil

3)        Libatkan keluarga untuk mengingatkan ibu untuk melakukan breast care dan senam hamil

4)        Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan gizi ibu hamil

  1. Anjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  2. Anjurkan pada ibu untuk makan sedikit tapi sering
  3. Libatkan keluarga agar membantu ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  4. Anjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup dan mengurangi aktifitas yang berlebihan dan berat
  5. Berikan informasi tentang tanda-tanda bahaya kehamilan
  6. Berikan informasi tentang persiapan persalinan dan tanda-tanda persalinan
  7. Anjurkan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang segera jika ada keluhan

 

 

 

 

 

  • Rencana Evaluasi

Pada saat evaluasi diharapkan :

  1. Ibu mengerti kondisinya
  2. Ibu mengerti cara menjaga kondisinya selama hamil
  3. Ibu mau mengkonsumsi tablet Fe, kalsium laktat, vitamin B kompleks, vitamin C 3 x 1 tablet/hari
  4. Ibu mengerti cara mengkonsumsi zat besi
  5. Keluarga berjanji untuk memberikan bantuan psikologis pada ibu
  6. Ibu mengerti manfaat breast care dan senam hamil

1)   Ibu mengerti cara breast care dan senam hamil

2)   Keluarga berjanji akan mengingatkan ibu untuk melakukan breast care dan senam hamil

3)   Ibu mengerti tentang kebutuhan gizi pada ibu hamil

  1. Ibu berjanji akan mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  2. Ibu mengatakan akan makan sedikit tapi sering
  3. Keluarga berjanji akan membantu ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  4. Ibu mengatakan akan istirahat yang cukup dan akan mengurangi aktifitas yang berlebihan dan berat
  5. Ibu mengerti tentang tanda-tanda bahaya dalam kehamilan
  6. Ibu mengerti tantang persiapan persalinan dan tanda-tanda persalinan
  7. Ibu berjanji akan melakukan kunjungan ulang segera jika ada keluhan

 

  1. VI. IMPLEMENTASI

Tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Tindakan yang dilakukan berdasarkan prosedur yang telah lazim diikuti dan dilakukan.

Di dalam tahap ini, bidan melakukan observasi sesuai dengan kriteria yang telah direncanakan. Bila bidan perlu memberikan infus atau pemberian obat, maka tindakan tersebut dilakukan sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku. Berbagai hal yang perlu perhatian didalam tahap pelaksanaan ini adalah:

ü  Intervensi yang dilakukan harus berdasarkan prosedur tetap yang lazim dilakukan.

ü  Pengamatan dilakukan secara cermat dan tepat sesuai dengan kriteria evaluasi yang ditetapkan.

ü  Pengandalian keadaan pasien atau klien sehingga berangsur-angsur menuju kondisi kesehatan yang diharapkan.

Didalam melaksanakan tindakan, bidan dapat melakukan asuhan secara mandiri untuk kasus-kasus yang didalam batas kewenangannya. Bila bidan menemukan kasus diluar batas kewenangannya didalam melakukan tindakan, maka pasien atau klien tersebut dirujuk kerumah sakit. Dan bidan dengan dokter atau tenaga kesehatan lainnya pada kasus-kasus tertentu.

CONTOH:

Berdasarkan contoh diagnosa diatas

  1. Menjelaskan pada ibu kondisinya saat ini
  2. Mengajarkan pada ibu cara menjaga kondisinya selamahamil

 

  1. Memberikan terapi

1)      Tablet Fe                  : 2 x 1 tablet/ hari

2)      Kalsium laktat          : 3 x 1 tablet/hari

3)      Vitamin B kompleks: 3 x 1 tablet/hari

4)      Vitamin C                : 3 x 1 hari

  1. Menganjurkan pada ibu cara mengkonsumsi zat besi
    1. Mengevaluasi cara ibu mengkonsumsi zat besi
    2. Melibatkan keluarga untuk memberikan dukungan psikologis pada ibu
    3. Menjelaskan pada ibu pentingnya breast care dan senam hamil

1)        Mengajarkan pada ibu cara breast care dan senam hamil

2)        Mengevaluasi cara ibu melakukan breast care dan senam hamil

3)        Melibatkan keluarga untuk mengingatkan ibu untuk melakukan breast care dan senam hamil

4)        Menjelaskan pada ibu tentang kebutuhan gizi ibu hamil

  1. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  2. Menganjurkan pada ibu untuk makan sedikit tapi sering
  3. Melibatkan keluarga agar membantu ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  4. Menganjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup dan mengurangi aktifitas yang berlebihan dan berat
  5. Memberikan informasi tentang tanda-tanda bahaya kehamilan
  6. Memberikan informasi tentang persiapan persalinan dan tanda-tanda persalinan
  7. Menganjurkan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang segera jika ada keluhan

 

VII.MENGEVALUASI

Tahap ini menentukan tingkat keberhasilan dari tindakan. Bila tindakan yang dilakukan mencapai tujuan, perlu dipertimbangkan kemungkinan masalah baru yang timbul akibat keberhasilan. Dan sebaliknya bila tindakan tidak mencapai tujuan, maka langkah-langkah sebelumnya perlu diteliti kembali.

Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien, kita mengacu kepada beberapa pertimbangan berikut ini.

  1. Tujuan asuhan kebidanan

ü Meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan kesehatan.

ü Memfasilitasi ibu untuk menjalani kehamilannya dengan rasa aman dan penuh percaya diri.

ü Meyakinkan wanita dan pasangannya untuk mengembangkan kemampuannya sebagai orangtua dan untuk mendapatkan pengalaman berharga sebagai orangtua.

ü Membantu keluarga untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan mereka dan mengemban tanggungjawab terhadap kesehatannya sendiri.

  1. Efektivitas tindakan untuk mengatasi masalah

dalam melakukan evaluasi seberapa efektif tindakan dan asuhan yang kita berikan kepada pasien, kita perlu mengkaji respons pasien dan peningkatan kondisi yang kita targetkan pada saat penyusunan perencanaan. Hasil pengkajian ini kita jadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan asuhan berikutnya.

  1. Hasil asuhan

Hasil asuhan adalah bentuk konkret dari perubahan kondisi pasien dan keluarga yang meliputi pemulihan kondisi pasien, peningkatan kesejahteraan emosional, peningkatan pengetahuan dan kemampuan pasien mengenai perawatan diri, serta peningkatan kemandirian pasien dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya.

CONTOH:

Berdasarkan contoh diagnosa diatas

  1. Ibu mengerti kondisinya saat ini
  1. Ibu mengerti cara menjaga kondisinya selama hamil
  2. Ibu mau mengkonsumsi tablet Fe, kalsium laktat, vitamin B kompleks, vitamin C 3 x 1 tablet/hari
  3. Ibu mengerti cara mengkonumsi zat besi
  4. Keluarga berjanji untuk memberikan bantuan psikologispada ibu
  5. Ibu mengerti manfaat breast care dan senam hamil

1)      Ibu mengerti cara breast care dan senam hamil

2)      Keluarga berjanjii akan mengingatkan ibu untuk melakukan breast care dan senam hamil

3)      Ibu mengerti tentang kebutuhan gizi pada ibuhamil

  1. Ibu berjanji akan mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  2. Ibu mengatakan akan makan sedikit tapi sering
  3. Keluarga berjanji akan membantu ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  4. Ibu mengatakan akan istirahat yang cukup dan akan mengurangi aktifitas yang berlebihan dan berat
  5. Ibu mengerti tentang tanda-tanda bahaya dalam kehamilan
  6. Ibu mengerti tantang persiapan persalinan dan tanda-tanda persalinan
  7. Ibu berjanji akan melakukan kunjungan ulang segera jika ada keluhan

 

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2011 in kULiAh BiDaN

 

-KICK CHART-

KICK CHART PPT

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2010 in kULiAh BiDaN

 

MAKALAH TB PARU

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, suatu basil tahan asam yang ditularkan melalui udara (Asih, 2004). Penyakit ini ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Komplikasi. Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis, efusi pleura, empiema, laryngitis dan TB usus.

Penderita tuberkulosis di kawasan Asia terus bertambah. Sejauh ini, Asia termasuk kawasan dengan penyebaran tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Setiap 30 detik, ada satu pasien di Asia meninggal dunia akibat penyakit ini. Sebelas dari 22 negara dengan angka kasus TB tertinggi berada di Asia, di antaranya Banglades, China, India, Indonesia, dan Pakistan. Empat dari lima penderita TB di Asia termasuk kelompok usia produktif (Kompas, 2007). Di Indonesia, angka kematian akibat TB mencapai 140.000 orang per tahun atau 8 persen dari korban meninggal di seluruh dunia. Setiap tahun, terdapat lebih dari 500.000 kasus baru TB, dan 75 persen penderita termasuk kelompok usia produktif. Jumlah penderita TB di Indonesia merupakan ketiga terbesar di dunia setelah India dan China.

Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik dan mental ibu hamil. Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa faktor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB. Selain itu, risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB kongenital).

Mengingat akan bahaya TB paru dan pentingnya memberikan pelayanan pada ibu untuk mempersiapkan kehamilan, terutama untuk mendeteksi dini, memberikan terapi yang tepat serta pencegahan dan penanganan TB pada masa prakonsepsi, maka dalam makalah ini akan di bahas segala teori tentang TB paru dan hubungannya dengan masa prakonsepsi wanita untuk mempersiapkan kehamilan. Selain itu, dalam makalah ini juga akan dibahas peranan bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan prakonsepsi, utamanya terhadap klien penderita TB paru.

 

1.2 Rumusan Masalah

a. TB Paru

  1. Apa Definisi TB Paru?
  2. Mengapa seseorang bisa sampai terkena penyakit TB Paru?
  3. Bagaimana tanda dan gejala penyakit TB Paru?

4.   Bagaimana hubungan antara TB Paru dengan kehamilan dan janin?

 

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Untuk menjelaskan Definisi TB Paru
  2. Untuk menjelaskan penyebab penyakit TB Paru, tanda dan gejala serta patofisiologinya dalam tubuh.
  3. Untuk menjelasan hubungan antara TB Paru dengan kehamilan.
  4. Untuk menjelaskan peran bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan masa prakonsepsi utamanya terhadap penderita TB Paru.

1.4 Manfaat Penulisan

  1. Untuk mengetahui definisi TB Paru.
  2. Untuk mengetahui penyebab penyakit TB Paru, tanda dan gejala serta patofisiologinya dalam tubuh.
  3. Untuk mengetahui hubungan antara TB Paru dengan kehamilan.
  4. Untuk mengetahui peran bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan masa prakonsepsi utamanya terhadap penderita TB Paru.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.

 

2.2 Etiologi

TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.

 

2.3 Tanda Dan Gejala

1. Tanda

a. Penurunan berat badan

b. Anoreksia

c. Dispneu

d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.

2. Gejala

a. Demam

Biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman TBC yang masuk.

b. Batuk

Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding bronkus.

c.Sesak nafas.

Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru.

d. Nyeri dada

Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis)

e.Malaise

Dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

 

2.4 Patofisiologi

Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di dalam paru-paru meliputi: penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Banyaknya area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh karena itu menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan rasio ventilasi-perfusi yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.5 Pemeriksaan Penunjang

Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam “Screening TBC”. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. Pembacaan hasil tuberkulin dilakukan setelah 48 – 72 jam; dengan hasil positif bila terdapat indurasi diameter lebih dari 10 mm, meragukan bila 5-9 mm. Uji tuberkulin bisa diulang setelah 1-2 minggu. Pada anak yang telah mendapat BCG, diameter indurasi 15 mm ke atas baru dinyatakan positif, sedangkan pada anak kontrak erat dengan penderita TBC aktif, diameter indurasi ≥ 5 mm harus dinilai positif. Alergi disebabkan oleh keadaan infeksi berat, pemberian immunosupreson, penyakit keganasan (leukemia), dapat pula oleh gizi buruk, morbili, varicella dan penyakit infeksi lain.

Gambaran radiologis yang dicurigai TB adalah pembesaran kelenjar nilus, paratrakeal, dan mediastinum, atelektasis, konsolidasi, efusipieura, kavitas dan gambaran milier. Bakteriologis, bahan biakan kuman TB diambil dari bilasan lambung, namun memerlukan waktu cukup lama. Serodiagnosis, beberapa diantaranya dengan cara ELISA (Enzyime Linked Immunoabserben Assay) untuk mendeteksi antibody atau uji peroxidase – anti – peroxidase (PAP) untuk menentukan IgG spesifik. Teknik bromolekuler, merupakan pemeriksaan sensitif dengan mendeteksi DNA spesifik yang dilakukan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Uji serodiagnosis maupun biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau tidak.

Tes tuberkulin positif, mempunyai arti :

1.      Pernah mendapat infeksi basil tuberkulosis yang tidak berkembang menjadi penyakit.

2.      Menderita tuberkulosis yang masih aktif

3.      Menderita TBC yang sudah sembuh

4.      Pernah mendapatkan vaksinasi BCG

5.      Adanya reaksi silang (“cross reaction”) karena infeksi mikobakterium atipik.

 

 

2.6. Epidemiologi Dan Penularan TBC

Dalam penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

1.      Reservour, sumber dan penularan

Manusia adalah reservoar paling umum, sekret saluran pernafasan dari orang dengan lesi aktif terbuka memindahkan infeksi langsung melalui droplet.

2.      Masa inkubasi

Yaitu sejak masuknya sampai timbulnya lesi primer umumnya memerlukan waktu empat sampai enam minggu, interfal antara infeksi primer dengan reinfeksi bisa beberapa tahun.

3.      Masa dapat menular

Selama yang bersangkutan mengeluarkan bacil Turbekel terutama yang dibatukkan atau dibersinkan.

4.      Immunitas

Anak dibawah tiga tahun paling rentan, karena sejak lahir sampai satu bulan bayi diberi vaksinasi BCG yang meningkatkan tubuh terhadap TBC.

2.7 Stadium TBC

  1. Kelas 0

Tidak ada jangkitan tuberkulosis, tidak terinfeksi (tidak ada riwayat terpapar, reaksi terhadap tes kulit tuberkulin tidak bermakna).

  1. Kelas 1

Terpapar tuberkulosis, tidak ada bukti terinfeksi (riwayat pemaparan, reaksi tes tuberkulosis tidak bermakna)

  1. Kelas 2

Ada infeksi tuberkulosis, tidak timbul penyakit (reaksi tes kulit tuberkulin bermakna, pemeriksa bakteri negatif, tidak bukti klinik maupun radiografik).

Status kemoterapi (pencegahan) :

  • Tidak ada
  • Dalam pengobatan kemoterapi
  • Komplit (seri pengobatan dalam memakai resep dokter)
  • Tidak komplit
  1. Kelas 3

Tuberkuosis saat ini sedang sakit (Mycobacterium tuberkulosis ada dalam biakan, selain itu reaksi kulit tuberkulin bermakna dan atau bukti radiografik tentang adanya penyakit). Lokasi penyakit : paru, pleura, limfatik, tulang dan/atau sendi, kemih kelamin, diseminata (milier), menigeal, peritoneal dan lain-lain.

Status bakteriologis :

a.       Positif dengan :

  • Mikroskop saja
  • Biakan saja
  • Mikroskop dan biakan

b.      Negatif dengan :

  • Tidak dikerjakan

Status kemoterapi :

Dalam pengobatan kemoterapi sejak kemoterapi diakhiri, tidak lengkap reaksi tes kulit tuberkulin :

a.       Bermakna

b.      Tidak bermakna

  1. Kelas 4

Tuberkulosis saat ini tidak sedang menderita penyakit (ada riwayat mendapat pengobatan pencegahan tuberkulosis atau adanya temuan radiografik yang stabil pada orang yang reaksi tes kulit tuberkulinya bermakna, pemeriksaan bakteriologis, bila dilakukan negatif. Tidak ada bukti klinik tentang adanya penyakit pada saat ini).

Status kemoterapi :

a.       Tidak mendapat kemoterapi

b.      Dalam pengobatan kemoterapi

c.       Komplit

d.      Tidak komplit

  1. Kelas 5

Orang dicurigai mendapatkan tuberkulosis (diagnosis ditunda)

Kasus kemoterapi :

a.       Tidak ada kemoterapi

b.      Sedang dalam pengobatan kemoterapi.

 

2.8 Komplikasi

Komplikasi Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis,TB usus.

Menurut Dep.Kes (2003) komplikasi yang sering terjadi pada penderita TB Paru stadium lanjut: 1) Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. 2) Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. 3) Bronkiectasis dan fribosis pada Paru. 4) Pneumotorak spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan Paru. 5) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya. 6) Insufisiensi Kardio Pulmoner

2.9 Penanganan

a.       Promotif

1.      Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC

2.      Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko

3.      Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.

b.      Preventif

1.      Vaksinasi BCG

2.      Menggunakan isoniazid (INH)

3.      Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.

4.      Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini.

c.       Kuratif

Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu yang lama. Obat-obat dapat juga digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis pada seseorang yang sudah terjangkit infeksi. Penderita tuberkulosis dengan gejala klinis harus mendapat minuman dua obat untuk mencegah timbulnya strain yang resisten terhadap obat. Kombinasi obat-obat pilihan adalah isoniazid (hidrazid asam isonikkotinat = INH) dengan etambutol (EMB) atau rifamsipin (RIF). Dosis lazim INH untuk orang dewasa biasanya 5-10 mg/kg atau sekitar 300 mg/hari, EMB, 25 mg/kg selama 60 hari, kemudian 15 mg/kg, RIF 600 mg sekali sehari. Efek samping etambutol adalah Neuritis retrobulbar disertai penurunan ketajaman penglihatan. Uji ketajaman penglihatan dianjurkan setiap bulan agar keadaan tersebut dapat diketahui. Efek samping INH yang berat jarang terjadi. Komplikasi yang paling berat adalah hepatitis. Resiko hepatitis sangat rendah pada penderita dibawah usia 20 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 60 tahun keatas. Disfungsi hati, seperti terbukti dengan peningkatan aktivitas serum aminotransferase, ditemukan pada 10-20% yang mendapat INH. Waktu minimal terapi kombinasi 18 bulan sesudah konversi biakan sputum menjadi negatif. Sesudah itu masuk harus dianjurkan terapi dengan INH saja selama satu tahun.

Baru-baru ini CDC dan American Thoracis Societty (ATS) mengeluarkan pernyataan mengenai rekomendasi kemoterapi jangka pendek bagi penderita tuberkulosis dengan riwayat tuberkulosis paru pengobatan 6 atau 9 bulan berkaitan dengan resimen yang terdiri dari INH dan RIF (tanpa atau dengan obat-obat lainnya), dan hanya diberikan pada pasien tuberkulosis paru tanpa komplikasi, misalnya : pasien tanpa penyakit lain seperti diabetes, silikosis atau kanker didiagnosis TBC setelah batuk darah, padahal mengalami batu dan mengeluarkan keringat malam sekitar 3 minggu.

 

 

2.10 Tuberkulosis pada kehamilan

2.10.1 Pengaruh tuberculosis terhadap kehamilan

Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Lebih dari 50 persen kasus TB paru adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4.300 wanita hamil,150 diantaranya adalah pengidap TB paru (M Iqbal, 2007 dalam http://www.mail-archive.com/)

Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB. Status nutrisi yang jelek, hipoproteinemia, anemia dan keadaan medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal.

Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB. Jika pengobatan tuberkulosis diberikan awal kehamilan, dijumpai hasil yang sama dengan pasien yang tidak hamil, sedangkan diagnosa dan perewatan terlambat dikaitkan dengan meningkatnya resiko morbiditas obstetric sebanyak 4x lipat dan meningkatnya resiko preterm labor sebanyak 9x lipat. Status sosio-ekonomi yang jelek, hypo-proteinaemia, anemia dihubungkan ke morbiditas ibu.

Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum. Pada awal abad 20, induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB.

Selain paru-paru, kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus, selaput otak, tulang, dan sendi, serta kulit. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi, kemungkinan akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang. Bahkan, TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB, khususnya wanita usia reproduksi. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi.

Harold Oster MD,2007 dalam http://www.okezone.com/index.php mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. Namun, jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali, kemungkinan untuk hamil masih tetap ada. Idealnya, sebelum memutuskan untuk hamil, wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai tuntas. Namun, jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi.

 

2.10.2 Pengaruh tuberkulosis terhadap janin

Menurut Oster, 2007 jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko terhadap janin. Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa, dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana, KalaVasistha, Subhas C Saha, Kushagradhi Ghosh, 1999 dalam http://proquest.umi.com/pqdweb tentang efek TB ekstrapulmoner tuberkuosis, didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan, persalinan dan hasil konsepsi. Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%), bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%), berat badan lahir rendah (<2500 gram).

Selain itu, risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir.

 

2.10.3 Pengaruh kehamilan terhadap tuberkolosis

Pengetahuan akan meningkatnya diafragma selama kehamilan yang mengakibatkan kolapsnya paru di daerah basal paru masih dipegang sampai abad 19. Awal abad ke-20, aborsi merupakan pilihan terminasi pada wanita hamil dengan tuberculosis. Sekarang, TB diduga semakin memburuk selama kehamilan, khususnya di hubungakann dengan status sosio-ekonomi jelek, imunodefisiensi atau adanya penyakit penyerta. Kehilangan antibodi pelindung ibu selama laktasi juga menguntungkan perkembangan TB. Akan tetapi, lebih banyak studi diperlukan untuk menyokong hipotesa.

 

2.10.4 Tes Diagnosis TB pada Kehamilan

Bakteri TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Karena itu disebut basil tahan asam (BTA). Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung,tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap.

Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun). Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. Hal yang penting adalah bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit jika memiliki daya tahan tubuh kuat karena sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk. Diagnosis TB bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). Diagnosis dengan BTA mudah dilakukan,murah dan cukup reliable.

Kelemahan pemeriksaan BTA adalah hasil pemeriksaan baru positif bila terdapat kuman 5000/cc dahak. Jadi, pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya, tidak akan terdeteksi dengan pemeriksaan BTA (hasil negatif). Adapun rontgen memang dapat mendeteksi pasien dengan BTA negatif, tapi kelemahannya sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca foto rontgen. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB, melalui interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes.

Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit. Diagnosis TB pada wanita hamil dilakukan melalui pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi), pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?), serta uji tuberkulin.

Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB, sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif, maka ada tiga kemungkinan, yaitu tidak ada infeksi TB, pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB, atau terjadi anergi.

Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. Untuk mengetahui gambaran TB pada trimester pertama, foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan, terutama jika hasil BTA-nya negatif.

 

2.10.5 Pengobatan TB pada kehamilan

Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. Menurut WHO, hampir semua OAT aman untuk kehamilan, kecuali streptomisin. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB.

 

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

  • Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi.
  • TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.
  • Tanda dan Gejala:

1. Tanda

a. Penurunan berat badan

b. Anoreksia

c. Dispneu

d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.

2. Gejala

a. Demam

b. Batuk

c.Sesak nafas.

d. Nyeri dada

e.Malaise

  • Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa faktor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB.
  • Jika kuman TB menyerang paru, maka risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital).
  • Peran bidan dalam menangani klien dengan TB paru adalah dengan memberikan konseling mengenai definisi, penyebab, cara pencegahan dan penularan serta terapi TB Paru, juga menjelaskan pada klien tentang dampak yang ditimbulkan terhadap kehamilan. Di samping itu juga  menawarkan alternatif solusi dan melakukan asuhan kebidanan untuk wanita TB Paru masa prakonsepsi dalam mempersiapkan kehamilannya.

 

3.2 Saran

  • Setiap pasangan yang akan merencanakan kehamilan, hendaknya berkonsultasi dulu mengenai kondisi kesehatan kepada tenaga kesehatan, termasuk bidan. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit/kelainan yang mungkin dialami calon orang tua, sehingga dapat melakukan tindakan yang lebih komprehensif dalam mengantisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan dari penyakit yang diderita, baik bagi ibu maupun janin yang dikandungnya.
  • Dalam menjalankan tugasnya, bidan melakukan Asuhan Kebidanan yang  tidak hanya pada ibu hamil dan bersalin, tapi juga pada wanita yang menginginkan kehamilan.

 

SUMBER :

  • Barbara, C.L., 1996, Perawatan Medikal Bedah (suatu pendekatan proses keperawatan) Bandung
  • Doengoes, M.., Rencana Asuhan Keperawatan. edisi 3. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
  • Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
  • Adrian Taufik. 2009. Tuberkulosis Paru.

Diambil pada 16-12-2010. Pukul 09.26

http://ikm-uii.net46.net/download/_laporan_pendek/short%20report_TB_ 2009.pdf

  • Laily Arifin. 2007. Kehamilan dan Tuberkolosis

Diambil pada 14-12-2010, pukul 14.35

http://lely-nursinginfo.blogspot.com/2007/06/pregnancy-and-tuberculosis.html

  • Admin. 2008. TB Kehamilan

Diambil pada 14-12-2010, pukul 14.30

http://hatzsiahaan.blogspot.com/2008/05/tb-kehamilan.html

  • Admin. 2009. Tuberkulosis Paru.

Diambil pada tanggal 14-12-2010, pukul 14.45

http://askepasbid.blogspot.com/

  • Admin. 2010. TBC pada Ibu Hamil.

Diambil pada tanggal 15-12-2010, pukul 10.00

http://khanzima.wordpress.com/2010/04/11/tbc-pada-ibu-hamil/

  • Admin. 2008. TB Paru.

Diambil pada tanggal 16-12-2010, pukul 09.24

http://masdanang.co.cc/?p=34

 
23 Comments

Posted by on December 31, 2010 in kULiAh BiDaN

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.