RSS

PENGENALAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

01 Oct

Ahlusunnah wal jamaah terdiri dari tiga kata, yaitu : “ahlun” yang berarti keluarga, golongan, atau pengikut; “as-sunnah” yang berarti sabda, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW; sedangkan “al-jama’ah” berarti kumpulan para sahabat nabi (jama’atus shahabah: tabiin dan tabiit tabiin).

Sunnah sendiri ada tiga sumber. Pertama, Sunnah Qouliyah; yaitu segala apa yang diucapkan/dikatakan oleh Rasulullah dan diriwayatkan oleh para sahabat. Kedua, Sunnah Fi’liyah; yaitu sunnah yang bersumber dari segala apa yang lilakukan dan dicontohkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Sunnah Takririyah; yaitu sunnah yang bersumber dari sikap”diam”nya Rasulullah, sehingga hukumnya mubah/boleh dilakukan.

Sejarah kelahiran Ahlusunnah wal jamaah sebagai fiqroh dalam Islam
a) menurut tinjauan historis
Sepeninggalan Rasulullah, banyak bermunculan aliran-aliran sesat yang mengancam kemurnian ajaran Islam. Semua aliran-aliran itu muncul karena perselisihan politik yang terjadi pada akhir pemerintahan Khalifah Usman bin Affan, dan berlanjut hingga masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abu Thalib. Pada akhir pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, muncul dua aliran yang saling berlawanan, yaitu Syi’ah dan Khawarij. Golongan Syi’ah mengagungkan Sayyidina Ali, sedangkan Khawarij sangat membencinya, bahkan ada yang mengkafirkannya. Kemudian muncul golongan Murji’ah yang mengambil sikap tidak melibatkan diri dalam pertentangan politik.
Pada perkembangan selanjutnya muncul beberapa aliran seperti Jabariyah, Qodariyah, dan Mu’tazilah. Dari ketiganya, Mu’tazilah merupakan golongan yang paling berpengaruh karena didukung oleh Khalifah Al-Makmun dari Dinasti Abbasiyah. Khalifah al-Makmun menjadikan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara. Seluruh umat Islam dipaksa untuk mengikutinya. Diantara ajaran yang dipaksakan adalah pengakuan bahwa Al-Quran adalah mahluk. Untuk memaksakan kehendaknya, Al-Makmun melakukan uji aqidah yang dikenal dengan peristiwa “Mihnah”. Banyak ulama yang menolak seruan Al-Makmun, sehingga mereka dimasukkan ke dalam penjara; diantaranya : Imam Ahmad Bin Hambal dan Muhammad bin Nuh.
Dari pembiakan faham Mu’tazilah tersebut, muncul “wacana tandingan” oleh seorang ulama besar yang bernama Abul Hasan Al-Asy’ari. Semula beliau adalah pengikut Mu’tazilah karena beliau adalah murid Al-Jubai, seorang tokoh Mu’tazilah. Akan tetapi setelah membandingkan ajaran-ajaran Mu’tazilah dengan nash-nash Al-Quran dan Hadits, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkesimpulan bahwa ajaran Mu’tazilah menyimpang dari ajaran Islam yang benar.

b) Tinjauan Nash
Istilah ASWAJA populer di kalangan umat Islam terutama didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah yang menegaskan bahwa umat Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umat Islam sendiri terbagi menjadi 73 golongan. Semua golongan tersebut akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu orang yang mengikuti Rasulullah dan sahabatnya.
Dalam pandangan As-Syihab Al-Khafaji dalam Nasam Ar-Riyadh, bahwa satu golongan yang dimaksud adalah golongan Ahlusunnah wal Jamaah. Pendapat ini dipertegas oleh Al-Hasyiah Asy-Syanwani, bahwa yang dimaksud dengan Ahlusunnah wal jamaah adalah pengikut kelompok Abul Hasan Asy’ari dan para ulama madzhab. Pendapat Asy-Syanwani ini cukup beralasan, karena untuk memahami Al-Quran dan sunnah perlu dilakukan penggalian (al-istinbad) yang mendalam dan sungguh-sungguh (ijtihad). Sementara untuk melakukan proses istinbath secara langsung kepada Al-Quran dan sunnah dibutuhkan kualifikasi kelimuan yang mendalam, atau dengan kata lain untuk menjadi mujtahid diperlukan berbagai penguasaan ilmu yang tidak sedikit. Maka disinilah relevansi dan kontekstualitas seorang muslim dalam mengikuti metodologi (mazhab manhaji), maupun produk pemikiran (mazhab qauli) yang telah dikembangkan oleh ulama mazhab.
Lantas, apakah semua pendapat mujtahid dapat diikuti? Tentu tidak. Yang dapat diikuti adalah pendapat para mujtahid yang mu’tabaroh (diakui kebenarannya). Mereka adalah imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mengapa hanya empat mujtahid tersebut yang harus diikuti? Apakah tidak ada mujtahid lainnya? Bagaimana cara mengetahui hasil ijtihad mereka? Sebenarnya masih banyak mujtahid yang membangun mazhab di bidang syariah atau fiqih, tetapi yang diikuti hanya empat mujtahid di atas, karena hasi ijtihad mereka telah teruji kebenarannya, dan telah diikuti oleh sebagian besar umat Islam sampai sekarang (mu’tabaroh). Adapun cara untuk mengetahui hasil ijtihad mereka adalah dengan memelajari kitab-kitab fiqih yang telah disusun oleh imam mazhab dan para pengikutnya.

Keterangan :
Dalam ilmu ketauhidan, kaum Asy’ariyah dianggap sebagai golongan moderat antara salafiyah dan muktazilah. Oleh karena moderatnya, maka mazhab ini banyak pengikutnya, diperkirakan lebih dari 70% umat Islam di seluruh dunia. jadi wajarlah umat Islam menganggapnya sebagai assawadul a’dhom

 
Leave a comment

Posted by on October 1, 2010 in iSLaM

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: