RSS

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)

01 Oct

1. LATAR BELAKANG

Berdirinya PMII bermula dari adanya hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusssunnah wal Jama’ah. PMII berdiri tanggal 17 April 1960 dengan latar belakang situasi politik tahun 1960-an yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan sosial politik di Indonesia. Pada mulanya, berawal dari Forum konferensi besar (KONBES) IPNU I di Kaliurang pada tanggal 14-17 Maret 1960 memunculkan keputusan perlunya mendirikan organisasi mahasiswa NU secara khusus di perguruan tinggi. Selain merumuskan pendirian organ mahasiswa, KONBES Kaliurang juga menghasilkan keputusan penunjukan tim perumus pendirian organisasi yang terdiri dari 13 tokoh mahasiswa NU.

Pendirian PMII dimotori oleh kalangan muda NU (meskipun di kemudian hari dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII menyatakan sikap independen dari lembaga NU). Di antara pendirinya adalah Mahbub Djunaidi dan Subhan ZE (seorang jurnalis sekaligus politikus legendaris).

Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penyebab berdirinya PMII:

–       Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu 1950-1959.

–       Tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.

–       Pisahnya NU dari Masyumi.

–       Tidak enjoynya lagi mahasiswa NU yang tergabung di HMI karena tidak terakomodasinya dan terpinggirkannya mahasiswa NU.

–       Kedekatan HMI dengan salah satu parpol yang ada (Masyumi) yang nota bene HMI adalah underbouw-nya.

PMII Dalam Kancah Dunia Kemahasiswaan

Di dalam kepengurusan PMII terdiri dari tiga departemen. Departemen 1 yaitu mewadai mahasiswa yang bergerak dalam masalah pengkaderan dan memperkuat kebersamaan antar anggota dan pengurus. Untuk departemen 2 yaitu bergerak dalam bidang kritis transformatif seperti mengkritik apa yang ada di sekitar kampus ataupun keputusan pemerintah yang merugikan masyarakat. Pada departemen 3 bergerak dalam bidang keagamaan seperti adanya majelis diba’, istighsah, mengikuti pengajian-pengajian yang ada di kampung sekitar skret PMII, dan lain-lain.

2. LANDASAN  BERPIKIR

–   landasan berpikir pesantren (fikrah ma’hadiyah)

–   bersumber dari al kutub mu’tabaroh (kitab-kitab karya ulama yang mu’tabar/ diakui kebenarannya)

–   5 prinsip dasar :

TAWASUTH: pertengahan

TASAMUKH (toleran) : wilayatul ihktilaf >imam 4 “Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Syafii”

ISLAHIYAH (reformatif)

TATHOWWU’ (dinamis)

MANHAJIYAH (metode berfikir yang baku)

SEKILAS TENTANG NU

Latar belakang berdirinya NU

Kerajaan Arab Saudi yang pada saat itu dipimpin oleh Raja Abdul Aziz bin Ibnu Saud hendak menjadikan faham Wahabi paham resmi negara dan ingin menyingkirkan paham-paham keagamaan lain yang berkembang disana. Dibalik itu semua, ada konspirasi islam-politik oleh ibnu saud dan Abdullah bin Wabah (pencetus faham Wahabi). Kaum wahabi memanfaatkan keberpihakan penguasa untuk menghilangkan praktik-praktik keagamaan tertentu yang berkembang pada sebagian umat Islam yang menurut mereka tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka menganggapnya sebagai bid’ah, sesuatu di luar agama yang dijadikan bagian dari ajaran agama.

Kaum Wahabi yang mengambil paham Ibnu Taimiyah yang begitu berpihak pada ahli hadis menilai bahwa praktik-praktik keagamaan sebagian umat Islam telah bercampur dengan syirik sehingga perlu dilakukan pemurnian. Perlu diingat juga bahwa kaum Wahabi-pun menyebut dirinya sebagai Ahlusunnah atau kelompok yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad SAW.

Beberapa tokoh Islam di Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan (muhammadiyah), HOS. Tjokroaminoto (PSII) menyambut baik gagasan Raja Abdul Aziz itu dan ingin mengembangkan paham yang sama di Indonesia. Bertolak dari hal tersebut, ulama dari kalangan pesantren yang kemudian menjadi pendiri NU mengemukakan ide dan pandangan dengan berpegang teguh pada paham Ahlusunnah wal Jamaah.

Pola pikir dan Nilai-nilai yang melandasi ASWAJA-NU

Praktik keagamaan yang sejak lama berkembang di kalangan umat Islam yang hendak dihapus oleh kaum Wahabi dan kelompok ‘puritan’ lainnya itu dipahami secara berbeda oleh ulama kalangan pesantren.

Dalam mengembangkan paham Ahlusunnah wal Jamaah, KH. Hasyim Asy’ari  tertarik dengan gagasan Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Mahfudz Termas, pengambil jalan tengah, yakni memadukan pandangan ahli hadis dan ahli ra’yi. (EndangTurmudzi, dkk., 2003:6). Dengan kata lain, konsep NU tentang ASWAJA tidaklah berupa taklid buta (mengikuti tradisi lama tanpa alasan), dan bukan pula mendewakan akal pikiran secara bebas tanpa batas dalam memahami ajaran agama.

Ciri khas dalam mengembangkan paham Alhusunnah wal JAmaah terdapat dalam dua hal: keharusan bermazhab dan berpegang pada aqidah “fiqhiyah ‘al muhafazhah ‘alal al qadim ash-shaalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah” pentingnya bermazhab dalam mengamalkan ajaran Islam, menurut NU dikarenakan akan lebih mendekatkan umat Islam pada kebenaran dan mudah dijangkau. Dalam al-Qaanuun Al-Asaasi, KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa meninggalkan mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hanbali dalam hal fiqih)akan mengakibatkan kerusakan yang fatal. Dalam Risalah Ash-sunnah wal-Jamaah, KH. Hasyim Asy’ari (1418:14) mengutip sebuah hadis nabi Muhammad SAW yang artinya : ”Ummatku tidak  mungkin berkumpul atas kesesatan; dan ‘Tangan’ Allah berada di atas ‘tangan’ jamaah; barang siapa mengucilkan diri (dari mereka), maka ia mengucilkan diri untuk menuju neraka…” (HR. At-Tirmidzi). Dalam riwayat Ibn Majah ada tambahan redaksi: “… oleh sebab itu, apabila terjadi perselisihan, maka wajib bagimu untuk mengikuti as-sawad al-a’zam.

Meski demikian, sesungguhnya mazhab yang benar tidak terbatas pada empat mazhab saja. Ada mazhab-mazhab lain yang menurut sebagian ulama bisa diikuti, seperti Sufyan Uyainah, mazhab Ishaq ibn Rahuwaih, mazhab Daud Az-Zahiri, dan mazhab Al-Awza’i. hanya saja dalam perkembangannya, mazhab-mazhab tersebut tidak mempunyai sistem sanad yang bisa menghindarkan dari dari terjadinya kekelituan akibat tahriif (pemalsuan) dan tabdiil (pengubahan) sehingga para ulama di kalangan syafi’iyah bersepakat untuk tidak membolehkan bermazhab kepada selain empat mazhab itu.

 
Leave a comment

Posted by on October 1, 2010 in InFo

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: