RSS

Category Archives: aBoUt InDoNeSiAn MiDwIvEs

Profesi Bidan Mulai Merangkak Naik


FK Unair – Keberadaan dan kapabilitas profesi bidan di tengah kehidupan masyarakat Indonesia masih di pandang sebelah mata, terlebih ketika kita “menilik” kembali perjalanan awal pendidikan bidan di indonesia yang hingga saat ini telah jatuh bangun dalam mengupayakan peningkatan peran tenaga bidan di tengah kehidupan masyarakat.

Di hari ke-2 acara konferensi kebidanan internasional dan workshop di Aula FK Unair (22/10) yang bekerjasama dengan Auckland University of Technology- New Zealand, serangkaian upaya pengembangan formula pendidikan kebidanan coba dipaparkan didalamnya.
Tampil sebagai pembicara Dekan FK Unair Prof. Dr. Muhammad Amin, dr.Sp.P(K), Anggota PP Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bidang pendidikan dan pelatihan Yetty Irawan, MSC dan Kepala Prodi Kebidanan AUT New Zealand Jackie Gunn, RM, RGON, MA (Hons).

Prof. Amin menyampaikan saat ini di Indonesia sedang membutuhkan sebanyak 70.000 orang bidan yang siap untuk membantu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Jumlah tersebut diharapkan dapat meminimalisasi tingkat kematian ibu dan bayi dalam proses persalinan yang terus bertambah.

Sebagai solusinya saat ini pemerintah tengah mensosialisasikan program “Indonesia Sehat 2010” yang memprioritaskan pada dua hal antara lain menekan angka kematian ibu dan bayi, serta perbaikan gizi anak Indonesia.

Untuk itu, tambahnya, diharapkan kemampuan akademik dan kompetensi bidan Indonesia harus di tingkatkan secara bersamaan, yaitu dengan melanjutkan pendidikanya dari tingkat vokasi (D3) ke tingkat akademik (S1), karena jenjang pendidikan yang ditempuh sangat berpengaruh pada kualitas pelayanan kesehatan masyarakat serta menjadi syarat utama dalam meraih kesempatan berkembang hingga ke manca negara.

Selain meningkatkan kemampuan akademik, seorang bidan diharapkan mampu menguasai teknik berkomunikasi yang baik terhadap para pasiennya.

“Mengapa demikian? karena ternyata salah satu faktor yang membuat banyak orang Indonesia memutuskan untuk lari berobat ke luar negeri adalah karena minimnya kemampuan yang dimilki tenaga medis indonesia dalam menjalin komunikasi yang baik dengan para pasien”ungkapnya.

Hal serupa juga di sampaikan oleh Kepala Prodi Kebidanan AUT New Zealand Jackie Gunn, RM, RGON, MA (Hons).

Menurutnya bidan di indonesia memiliki peluang untuk dapat mengembangkan kompetensinya hingga ke manca negara, asal dapat memenuhi beberapa kualifikasi yang telah ditentukan, dimulai dengan pembuatan visa untuk mendapatkan ijin kerja keluar negeri, serta menyertakan lisensi dari Badan Konsil Kesehatan Indonesia untuk mendapatkan surat ijin berpraktek ke luar negeri ,setelah memenuhi kualifikasi tersebut para bidan baru dapat mengaplikasikan kemampuannya disana.

Jackie menambahkan ada 3 kompetensi yang harus dimiliki oleh sorang bidan, antara lain kompetensi teori komprehensif, pengetahuan, skill, serta menguasai teknik pendekatan komunikatif kepada pasien.

“bahasa bukanlah sebuah kendala dalam proses belajar, karena dimanapun yang namanya proses persalinan memiliki teknik yang sama” ungkapnya

Di sisi lain, Yetty Irawan, MSC Mengungkapkan saat ini Indonesia memiliki jumlah lulusan program pendidikan D3 kebidanan sangat banyak, terhitung setiap tahunnya sejumlah sekolah kebidanan setingkat Vokasi ( D3) yang saat ini menjamur di indonesia mampu meluluskan sebanyak 1500 orang bidan baru, namun ironisnya pertambahan jumlah tenaga bidan tidak juga meminimalisasi tingkat kematian ibu dan bayi di indonesia.

Untuk itu saat ini, IBI berupaya untuk menekan jumlah lulusan kebidanan dan lebih memprioritaskan pada peningkatan kwalitas akademik dan kompetensi. Antara lain dengan mengarahkan para lulusan untuk menempuh program pendidikan S1 untuk kematangan akademisnya, serta upaya mengasah kemampuan non akademisnya.

Selain itu, tambahnya, program internasionalisasi juga diupayakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan seorang bidan, mengingat 57 tahun yang lalu IBI telah melakukan berbagai kerjasama dengan badan profesi bidan luar negeri , tentunya kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendukung kompetensi bidan Indonesia.
“kini bidan Indonesia telah memiliki standar profesi, dan standar pendidikan, tinggal mengupayakan sosialisasi kompetensi bidan ke tengah masyarakat” ungkapnya.
(Mo)

 

Sumber   :

http://www.fk.unair.ac.id/index.php/Headline-News/profesi-bidan-mulai-merangkak-naik.html

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2010 in aBoUt InDoNeSiAn MiDwIvEs

 

INDONESIAN’S MIDWIVES

The existence and capability of midwives in Indonesia is not good enough in the public society’s perception. Maybe this condition is due to many malpractice of midwives. Although like that, according to the data normal  labor process in the city that use midwive’s services is 61.8 percent, medical woman midwives 19.9 percent, doctor 3.6 percent, and obgyn’s doctor 13.6 percent. In the village, use midwive’s services 49.7 percent medical woman midwives 41.6 percent, doctor 0.9 percent, and obgyn’s doctor 4.6 percent. From that data, we can conclude that midwives is the most selected person to help mother’s normal labor.  Indonesian’s midwives union (IBI) say that , now a days Indonesian’s midwives is about 104.000.  whereas in Indonesia need 200.000 midwives. From that two fact, not only the quantity of midwives that need to add but also  the capability academic and competition of Indonesian midwives is need upgrading is the more important thing. It  can be by reached the education’s level from vocational to bachelor of midwives. Because of the educational’s level can influence the service quality of public society health of Indonesia.

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2010 in aBoUt InDoNeSiAn MiDwIvEs